Sempetin - Warga Canguk, Kota Magelang, Jawa Tengah, dibuat resah setelah menemukan lebih dari 20 bungkusan kain mori yang bentuknya menyerupai pocong berukuran kecil. Temuan tersebut sempat memunculkan dugaan mengerikan karena di dalam bungkusan terlihat benda menyerupai tulang belulang.
Namun, hasil pemeriksaan dokter forensik mengungkap fakta berbeda. Tulang-tulang yang ditemukan dipastikan bukan berasal dari manusia, melainkan tulang hewan berkaki empat.
Peristiwa ini menjadi perhatian publik setelah foto dan video penemuan bungkusan tersebut beredar di media sosial.
Berawal dari Penemuan di Sekitar Halaman Masjid
Penemuan bungkusan tersebut terjadi di kawasan Canguk, Kelurahan Rejowinangun Utara, Kota Magelang. Lokasinya berada di area sekitar masjid yang digunakan sebagai tempat pembuangan material tanah uruk.
Berdasarkan keterangan Ketua RW setempat yang diberitakan detikJateng, warga awalnya menemukan bungkusan tersebut ketika mencari barang bekas di sekitar tumpukan puing bangunan.
Bentuknya yang menyerupai pocong kecil membuat warga khawatir. Kain pembungkusnya tampak diikat menyerupai cara membungkus jenazah, sementara ukurannya memunculkan dugaan bahwa benda tersebut berkaitan dengan jasad bayi.
Karena tidak berani memeriksa sendiri, warga kemudian melaporkan penemuan itu kepada pengurus lingkungan dan kepolisian.
Lebih dari 20 Bungkusan Berhasil Dikumpulkan
Setelah menerima laporan, petugas kepolisian mendatangi lokasi untuk melakukan pemeriksaan. Area penemuan juga diamankan agar proses pemeriksaan dapat berlangsung dengan baik.
Jumlah bungkusan yang dikumpulkan dilaporkan mencapai lebih dari 20. Di dalamnya ditemukan tulang-tulang yang sekilas tampak menyerupai bagian tubuh manusia.
Situasi tersebut sempat menimbulkan keresahan di lingkungan sekitar. Warga membutuhkan kepastian mengenai asal-usul tulang yang ditemukan, terutama karena bentuk kain pembungkusnya terlihat tidak biasa.
Pemeriksaan lebih lanjut kemudian melibatkan dokter forensik dari RSUD Tidar Kota Magelang.
Dokter Forensik Pastikan Tulang Bukan Milik Manusia
Hasil pemeriksaan dokter forensik menjadi titik penting dalam mengungkap temuan yang sempat menghebohkan warga tersebut.
Dokter Arso Pranindyo Utomo dari RSUD Tidar menjelaskan bahwa karakteristik tulang yang diperiksa tidak sesuai dengan tulang manusia. Sejumlah bagian tulang, termasuk rahang dan gigi yang tajam, menunjukkan ciri hewan.
Temuan tulang kaki dalam jumlah yang tidak sesuai dengan anatomi manusia turut memperkuat kesimpulan tersebut. Pemeriksaan juga menemukan kulit dengan bulu tebal yang mengarah pada dugaan bahwa sisa-sisa tersebut berasal dari hewan berkaki empat.
Meski demikian, dokter tidak memastikan secara spesifik jenis hewan yang menjadi asal tulang tersebut. Kucing atau anjing sempat disebut sebagai kemungkinan, tetapi identifikasi pastinya tidak dapat ditetapkan hanya berdasarkan dugaan tersebut.
Polisi Telusuri Asal Bungkusan dari Tanah Uruk
Kapolres Magelang Kota AKBP Dikri Olfandi menyampaikan bahwa tidak ditemukan indikasi tulang manusia dalam pemeriksaan tersebut.
Menurut keterangan kepolisian yang dikutip media, bungkusan itu diduga berasal dari material tanah uruk yang dibuang di lokasi penemuan.
Polisi juga menyampaikan rencana menguburkan tulang-tulang tersebut agar keberadaannya tidak terus menimbulkan keresahan di tengah masyarakat.
Meski hasil pemeriksaan telah menjawab kekhawatiran utama warga, asal-usul lengkap bungkusan dan bagaimana sisa-sisa hewan itu bisa berada di lokasi tersebut tetap menjadi bagian penting untuk ditelusuri.
Warga Kini Mendapat Kepastian
Penjelasan dari dokter forensik membuat warga setempat lebih tenang. Kekhawatiran yang sebelumnya muncul karena bentuk bungkusan menyerupai pocong akhirnya terjawab melalui pemeriksaan medis.
Peristiwa di Canguk ini juga menjadi pengingat agar masyarakat tidak terburu-buru menyimpulkan sebuah kejadian berdasarkan foto atau video yang beredar di media sosial.
Ketika menemukan benda mencurigakan, langkah yang lebih aman adalah melaporkannya kepada pihak berwenang dan membiarkan pemeriksaan dilakukan oleh petugas yang kompeten.
Dengan demikian, informasi yang beredar dapat dipastikan berdasarkan fakta, bukan dugaan yang berpotensi memperbesar keresahan masyarakat.
Sumber informasi: detikJateng, detikNews, dan Jawa Pos Radar Magelang.