Sempetin - Pernah nggak, kamu terus memikirkan percakapan yang sudah berlalu, mengulang kesalahan kecil di kepala, atau khawatir berlebihan tentang sesuatu yang bahkan belum terjadi? Padahal, kejadian itu mungkin sudah selesai, tetapi pikiranmu masih sibuk mencari kemungkinan terburuk.

Kebiasaan memikirkan sesuatu secara berulang seperti ini sering disebut overthinking. Kalau berlangsung terus-menerus, kamu bisa merasa lelah secara emosional, sulit berkonsentrasi, dan kesulitan menikmati momen yang sedang dijalani.

SPONSORED

Salah satu pendekatan yang bisa dicoba untuk menghadapi pola pikir tersebut adalah self-compassion, yaitu memperlakukan diri sendiri dengan kebaikan, pemahaman, dan penerimaan ketika menghadapi kesulitan.

Self-compassion bukan berarti menghindari masalah atau selalu menganggap diri sendiri benar. Sebaliknya, pendekatan ini membantu kita menghadapi kesalahan dan perasaan tidak nyaman tanpa menambah beban melalui kritik diri yang berlebihan.

Lalu, bagaimana self-compassion dapat membantu menghadapi overthinking? Yuk, kenali konsepnya dan pelajari cara mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Apa Itu Self-Compassion?

Self-compassion adalah kemampuan untuk bersikap baik dan memahami diri sendiri ketika sedang mengalami kesulitan, melakukan kesalahan, atau merasa tidak cukup baik.

Konsep ini banyak dibahas oleh peneliti psikologi Kristin Neff, yang menjelaskan self-compassion melalui tiga unsur utama.

1. Self-kindness: Bersikap baik kepada diri sendiri

Ketika melakukan kesalahan, kita sering menjadi orang pertama yang mengkritik diri sendiri.

Misalnya, setelah melakukan kesalahan dalam pekerjaan, kamu berkata, “Aku memang nggak becus. Hal sederhana saja nggak bisa.”

Self-kindness mengajakmu mengubah respons tersebut menjadi lebih suportif, misalnya, “Aku memang melakukan kesalahan, tetapi aku bisa mempelajari apa yang perlu diperbaiki.”

Kamu tetap mengakui kesalahan, tetapi tidak menjadikan kesalahan tersebut sebagai alasan untuk merendahkan diri sendiri.

2. Common humanity: Menyadari bahwa semua orang punya kesulitan

Saat menghadapi kegagalan, kita terkadang merasa hanya diri sendiri yang mengalami masalah. Kita melihat pencapaian orang lain, lalu menyimpulkan bahwa hidup mereka selalu lebih baik.

Common humanity mengingatkan bahwa membuat kesalahan, merasa takut, mengalami penolakan, dan menghadapi ketidakpastian merupakan bagian dari pengalaman manusia.

Menyadari hal ini bukan berarti mengecilkan masalahmu. Kamu tetap boleh merasa sedih atau kecewa, sambil memahami bahwa kamu tidak sendirian dalam menghadapi kesulitan.

3. Mindfulness: Menyadari perasaan tanpa langsung menghakimi

Mindfulness berarti memperhatikan pikiran dan perasaan yang sedang muncul tanpa langsung menganggap semuanya sebagai fakta.

Contohnya, kamu merasa takut akan gagal dalam sebuah pekerjaan. Daripada langsung menyimpulkan bahwa kegagalan pasti terjadi, cobalah menyadari, “Saat ini aku sedang merasa takut gagal.”

Perbedaannya sederhana, tetapi penting. Kamu belajar mengenali emosi sebagai pengalaman yang sedang dirasakan, bukan sebagai kepastian tentang masa depan.

Ketiga unsur ini bisa menjadi dasar untuk merespons overthinking dengan lebih tenang dan penuh pemahaman.

Apa Hubungan Self-Compassion dengan Overthinking?

Overthinking sering melibatkan pikiran negatif yang berulang. Kamu mungkin terus mengingat kejadian masa lalu, mengkhawatirkan masa depan, atau mencari jawaban atas pertanyaan yang belum tentu bisa diselesaikan saat itu juga.

Ketika pola ini disertai kritik diri yang keras, pikiran yang berulang bisa terasa semakin membebani.

Misalnya, kamu melakukan kesalahan saat berbicara dalam rapat. Awalnya, kamu hanya mengingat kejadian tersebut. Namun, kemudian muncul pikiran seperti:

  • “Kenapa tadi aku ngomong begitu?”
  • “Jangan-jangan semua orang menganggap aku bodoh.”
  • “Aku pasti selalu bikin kesalahan.”
  • “Besok mereka pasti masih membicarakanku.”

Self-compassion tidak otomatis menghilangkan pikiran tersebut. Namun, kamu dapat menggunakannya untuk mengurangi kebiasaan menghakimi diri sendiri dan mengambil jarak dari kesimpulan negatif yang belum tentu benar.

Sebuah tinjauan sistematis terhadap penelitian self-compassion menemukan bahwa pola pikir negatif berulang, termasuk kekhawatiran dan rumination, merupakan salah satu mekanisme yang berkaitan dengan hubungan antara self-compassion dan kondisi psikologis. Meski begitu, penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk memahami hubungan sebab-akibat secara lebih pasti.

Artinya, self-compassion layak dicoba sebagai salah satu cara menghadapi overthinking, tetapi bukan solusi tunggal yang selalu berhasil untuk setiap orang.

5 Cara Mempraktikkan Self-Compassion untuk Menghadapi Overthinking

Kamu tidak harus langsung mengubah seluruh pola pikirmu. Mulailah dari langkah sederhana yang bisa diterapkan ketika pikiran mulai terasa penuh.

1. Sadari ketika kamu mulai terjebak dalam pikiran berulang

Langkah pertama adalah mengenali kapan kamu sedang memikirkan sesuatu secara berulang tanpa mendapatkan pemahaman atau solusi baru.

Contohnya, kamu sudah menghabiskan waktu cukup lama untuk memikirkan percakapan kemarin, tetapi tidak menemukan hal baru yang bisa dilakukan.

Coba berhenti sejenak dan tanyakan kepada diri sendiri:

  • Apakah aku sedang mencari solusi atau mengulang kekhawatiran yang sama?
  • Apakah ada tindakan yang benar-benar bisa kulakukan sekarang?
  • Apakah aku sedang memperlakukan diriku dengan terlalu keras?

Tidak perlu memarahi diri sendiri karena overthinking. Cukup sadari apa yang sedang terjadi.

Kamu bisa mengatakan, “Aku sedang banyak berpikir sekarang. Aku tidak harus menyelesaikan semuanya dalam satu waktu.”

2. Ganti kritik diri dengan dialog yang lebih suportif

Perhatikan bagaimana kamu berbicara kepada diri sendiri ketika melakukan kesalahan.

Apakah kamu akan mengatakan hal yang sama kepada sahabat yang sedang mengalami masalah serupa?

Jika sahabatmu gagal dalam wawancara kerja, mungkin kamu akan berkata, “Nggak apa-apa, kamu sudah berusaha. Kita evaluasi apa yang bisa diperbaiki.”

Namun, ketika mengalami hal yang sama, kamu justru berkata, “Aku gagal lagi. Memang aku nggak punya kemampuan.”

Cobalah memberikan pemahaman yang sama kepada diri sendiri.

Kamu bisa mengganti beberapa kalimat berikut:

  • “Aku selalu gagal” menjadi “Kali ini belum berhasil, dan aku masih bisa belajar.”
  • “Aku nggak boleh membuat kesalahan” menjadi “Kesalahan bisa terjadi, dan aku bisa memperbaikinya.”
  • “Semua orang lebih baik dariku” menjadi “Setiap orang punya perjalanan dan tantangan masing-masing.”
  • “Aku harus menyelesaikan semuanya sekarang” menjadi “Aku bisa mengerjakan satu hal terlebih dahulu.”

Tujuannya bukan membuat kalimat positif yang tidak sesuai kenyataan, melainkan menggunakan bahasa yang lebih adil dan realistis.

3. Pisahkan fakta dari asumsi

Overthinking terkadang membuat kemungkinan terasa seperti kepastian.

Misalnya, temanmu belum membalas pesan selama beberapa jam. Kamu mulai berpikir bahwa dia marah, tidak menyukaimu lagi, atau sengaja menghindar.

Padahal, kamu belum mengetahui alasan sebenarnya.

Ketika situasi seperti ini terjadi, coba tulis tiga hal berikut:

Fakta: Temanku belum membalas pesan.

Asumsi: Dia pasti marah kepadaku.

Kemungkinan lain: Dia sedang sibuk, belum melihat pesan, atau belum sempat membalas.

Setelah memisahkannya, tanyakan apakah ada tindakan yang masuk akal untuk dilakukan. Jika tidak ada, kamu bisa memilih untuk menunggu daripada terus mencari kepastian melalui dugaan.

Latihan ini tidak menjamin semua kekhawatiran hilang. Namun, latihan tersebut dapat membantumu menyadari bahwa tidak semua pikiran merupakan fakta.

4. Izinkan diri sendiri merasakan emosi

Saat merasa sedih, malu, takut, atau kecewa, kita terkadang ingin segera menghilangkan perasaan tersebut.

Akibatnya, kita justru menambah tekanan dengan pikiran seperti, “Aku seharusnya nggak merasa begini,” atau, “Kenapa aku begitu lemah?”

Self-compassion mengajakmu memberi ruang bagi emosi tanpa harus langsung menghakiminya.

Kamu bisa mencoba latihan singkat berikut:

  1. Berhenti sejenak dari aktivitas yang sedang dilakukan.
  2. Kenali perasaan yang muncul, misalnya kecewa atau cemas.
  3. Sadari bagian tubuh yang terasa tegang, jika ada.
  4. Tarik napas dengan nyaman dan perlahan, tanpa memaksakan pola napas tertentu.
  5. Katakan kepada diri sendiri, “Perasaan ini tidak nyaman, tetapi aku boleh merasakannya. Aku bisa mengambil langkah berikutnya secara perlahan.”

Kamu tidak perlu memaksakan diri agar langsung tenang. Tujuannya adalah memberi respons yang lebih lembut terhadap pengalaman emosionalmu.

5. Fokus pada langkah kecil yang bisa dikendalikan

Ketika pikiran terus berputar, kamu mungkin ingin menemukan jawaban untuk semua kemungkinan sekaligus.

Padahal, sebagian hal memang belum bisa diketahui atau dikendalikan.

Cobalah membagi masalah menjadi dua bagian:

  • Yang bisa kamu kendalikan: persiapan, keputusan, komunikasi, dan tindakanmu sendiri.
  • Yang tidak sepenuhnya bisa kamu kendalikan: pendapat orang lain, hasil akhir, masa lalu, dan kejadian yang belum terjadi.

Setelah itu, pilih satu langkah kecil yang bisa dilakukan.

Jika kamu khawatir menghadapi presentasi, misalnya, kamu bisa menyiapkan poin pembicaraan selama 15 menit. Setelah selesai, beri dirimu izin untuk beristirahat.

Kamu tidak harus memikirkan semua kemungkinan sampai merasa benar-benar siap. Terkadang, tindakan kecil yang realistis lebih membantu daripada terus menunggu kepastian.

Latihan Self-Compassion Selama 5 Menit

Kalau ingin mulai mempraktikkannya, kamu bisa mencoba latihan sederhana ini ketika pikiran terasa penuh.

Menit pertama: Kenali apa yang kamu rasakan.

Tanyakan kepada diri sendiri, “Apa yang sedang menggangguku sekarang?” Cukup sebutkan perasaan atau situasinya tanpa perlu langsung mencari solusi.

Menit kedua: Perhatikan cara kamu berbicara kepada diri sendiri.

Apakah ada kalimat yang terlalu keras, seperti “Aku selalu gagal” atau “Aku nggak pernah cukup baik”?

Menit ketiga: Ubah respons tersebut menjadi lebih realistis.

Contohnya, “Aku sedang kesulitan menghadapi situasi ini. Aku tidak harus menyelesaikan semuanya sekaligus.”

Menit keempat: Bedakan hal yang diketahui dan hal yang dikhawatirkan.

Tulis satu fakta yang kamu ketahui dan satu asumsi yang belum terbukti.

Menit kelima: Tentukan satu langkah kecil.

Pilih tindakan yang masuk akal, seperti menyelesaikan satu pekerjaan, meminta penjelasan, beristirahat sebentar, atau menunda keputusan sampai kamu memiliki informasi yang cukup.

Jika masalahnya belum bisa diselesaikan saat itu juga, kamu boleh mengakui bahwa belum ada jawaban yang pasti.

Kamu bisa mengulangi latihan ini sesuai kebutuhan. Tidak ada kewajiban untuk selalu merasa tenang setelah lima menit.

Apakah Self-Compassion Berarti Menjadi Terlalu Memanjakan Diri?

Tidak. Self-compassion bukan berarti menghindari tanggung jawab, mengabaikan kesalahan, atau membenarkan semua tindakan sendiri.

Ada perbedaan antara memaklumi diri secara berlebihan dan memperlakukan diri dengan pemahaman.

Contohnya, jika kamu melakukan kesalahan yang merugikan orang lain, self-compassion bukan berarti berkata, “Aku nggak salah, jadi nggak perlu memperbaikinya.”

Respons yang lebih sehat bisa berupa, “Aku melakukan kesalahan dan perlu bertanggung jawab. Aku bisa meminta maaf, memperbaiki dampaknya, dan belajar agar lebih baik ke depannya.”

Kamu tetap bisa memiliki standar, tujuan, dan keinginan untuk berkembang tanpa harus menghina diri sendiri setiap kali belum berhasil.

Bersikap baik kepada diri sendiri bukan lawan dari bertanggung jawab. Keduanya bisa berjalan beriringan.

Kapan Overthinking Perlu Mendapatkan Bantuan Profesional?

Overthinking sesekali merupakan pengalaman yang bisa dialami banyak orang. Namun, jika pikiran berulang terasa sulit dikendalikan dan mulai mengganggu kehidupan sehari-hari, kamu tidak harus menghadapinya sendirian.

Pertimbangkan untuk berkonsultasi dengan psikolog atau tenaga kesehatan yang sesuai jika:

  • Kekhawatiran terus berulang dan sulit dihentikan.
  • Pikiran yang mengganggu membuatmu kesulitan tidur atau berkonsentrasi.
  • Kamu mulai menghindari aktivitas, pekerjaan, atau hubungan sosial.
  • Perasaan cemas atau tertekan berlangsung terus-menerus dan mengganggu rutinitas.
  • Cara-cara yang kamu coba sendiri belum cukup membantu.

Self-compassion dapat menjadi salah satu keterampilan pendukung, tetapi tidak menggantikan pemeriksaan atau penanganan profesional ketika dibutuhkan.

Meminta bantuan bukan berarti kamu lemah. Itu merupakan salah satu cara untuk merawat diri dan mencari dukungan yang tepat.

Kesimpulan

Self-compassion dapat menjadi pendekatan yang bermanfaat untuk menghadapi overthinking karena mengajak kita merespons pikiran, kesalahan, dan emosi dengan lebih bijaksana.

Dengan mengenali pikiran berulang, mengurangi kritik diri, memisahkan fakta dari asumsi, menerima emosi, dan mengambil langkah kecil yang bisa dikendalikan, kamu dapat mulai membangun hubungan yang lebih sehat dengan diri sendiri.

Ingat, kamu tidak harus selalu berpikir positif atau memiliki jawaban untuk setiap masalah. Kamu tetap boleh merasa takut, kecewa, dan bingung sambil belajar menghadapi situasi tersebut secara perlahan.

Mulailah dari satu hal sederhana hari ini: ketika pikiranmu mulai menyalahkan diri sendiri, berhentilah sejenak dan tanyakan, “Kalau orang yang kusayangi mengalami hal ini, bagaimana aku akan memperlakukannya?”

Cobalah memberikan sedikit pemahaman yang sama kepada dirimu sendiri.

Perubahan tidak harus terjadi dalam semalam. Yang penting, kamu terus belajar menghadapi diri sendiri dengan lebih adil, penuh kesadaran, dan penuh kasih.

FAQ tentang Self-Compassion dan Overthinking

Apa itu self-compassion?

Self-compassion adalah kemampuan memperlakukan diri sendiri dengan kebaikan dan pemahaman ketika mengalami kesulitan, kegagalan, atau emosi yang tidak nyaman.

Apakah self-compassion bisa mengurangi overthinking?

Self-compassion dapat membantu sebagian orang menghadapi kritik diri dan pikiran negatif berulang dengan cara yang lebih sehat. Namun, efeknya berbeda pada setiap orang dan tidak menjamin overthinking akan hilang sepenuhnya.

Bagaimana cara memulai self-compassion?

Mulailah dengan mengenali emosi, menyadari kritik diri, mengganti kalimat yang terlalu keras dengan respons yang realistis, serta menentukan satu langkah kecil yang bisa dilakukan.

Apakah self-compassion sama dengan berpikir positif?

Tidak. Berpikir positif sering dikaitkan dengan melihat sisi baik suatu situasi, sedangkan self-compassion berarti merespons pengalaman diri dengan kebaikan dan pemahaman, termasuk ketika situasinya memang sulit.

Apa yang harus dilakukan jika overthinking tidak kunjung berkurang?

Jika pikiran berulang terus mengganggu tidur, pekerjaan, hubungan, atau aktivitas sehari-hari, pertimbangkan untuk berkonsultasi dengan psikolog atau tenaga kesehatan profesional.