Sempetin - Memilih pasangan hidup bukan sekadar mencari seseorang yang membuat hati berbunga-bunga. Pernikahan juga membutuhkan kesiapan mental, kematangan sikap, dan kesediaan untuk saling menghargai dalam menghadapi berbagai persoalan rumah tangga.
Dalam tradisi keilmuan Islam, Imam Al-Ghazali melalui kitab Ihya' Ulumuddin membahas sejumlah panduan dalam memilih pasangan hidup. Salah satu nasihat yang sering dibicarakan adalah mengenai karakter yang dapat mengganggu keharmonisan rumah tangga apabila tidak diperbaiki.
Beberapa istilah yang populer digunakan untuk menggambarkan karakter tersebut adalah Annaanah, Mannaanah, Hannanah, Haddaqah, Barraqah, dan Syaddaqah. Sejumlah artikel populer menambahkan satu istilah lain, yakni Kay'atul-Qafaa.
Perlu dipahami, nasihat ini bukan berarti perempuan yang pernah melakukan kesalahan atau memiliki kekurangan tertentu otomatis tidak layak menjadi istri. Hal yang lebih penting adalah bagaimana seseorang memperbaiki diri dan membangun hubungan yang sehat bersama pasangannya.
1. Annaanah, Kebiasaan Mengeluh Tanpa Mencari Jalan Keluar
Annaanah merujuk pada karakter yang identik dengan kebiasaan mengeluh secara berlebihan. Dalam kehidupan sehari-hari, sikap ini dapat terlihat ketika seseorang terus-menerus mempersoalkan keadaan, tetapi enggan membicarakan solusi yang bisa dilakukan bersama.
Dalam rumah tangga, kebiasaan tersebut berpotensi membuat pasangan merasa lelah secara emosional, terutama jika setiap persoalan selalu berakhir dengan pertengkaran.
Meski begitu, mengeluh bukan berarti selalu menunjukkan karakter buruk. Seseorang tetap berhak menyampaikan kesedihan, ketidaknyamanan, atau kebutuhan yang belum terpenuhi.
Yang perlu dibangun adalah komunikasi dua arah. Suami dan istri sebaiknya belajar menyampaikan keluhan dengan jelas, mendengarkan tanpa meremehkan, serta mencari jalan keluar yang adil bagi keduanya.
2. Mannaanah, Sering Mengungkit Kebaikan yang Pernah Dilakukan
Mannaanah menggambarkan kebiasaan mengingat-ingat dan mengungkit bantuan atau pengorbanan yang pernah diberikan kepada orang lain.
Contohnya, seseorang terus menyebut pengorbanannya setiap kali terjadi perbedaan pendapat. Bantuan yang seharusnya diberikan dengan tulus akhirnya digunakan sebagai alat untuk membuat pasangan merasa bersalah.
Jika berlangsung terus-menerus, kebiasaan ini dapat mengurangi rasa nyaman dan kepercayaan dalam hubungan.
Padahal, rumah tangga membutuhkan kerja sama yang dilandasi ketulusan. Pengorbanan memang patut dihargai, tetapi tidak semestinya dijadikan senjata untuk merendahkan pasangan.
3. Hannanah, Terus Membandingkan Pasangan dengan Orang Lain
Hannanah kerap dijelaskan sebagai kecenderungan membandingkan pasangan dengan orang lain atau terus-menerus mengidealkan hubungan maupun kehidupan sebelumnya.
Dalam praktiknya, sikap ini bisa muncul ketika seseorang sering membandingkan penghasilan suami dengan pasangan orang lain, menilai rumah tangga orang lain selalu lebih bahagia, atau menganggap pasangannya tidak pernah cukup baik.
Perbandingan yang dilakukan berulang kali dapat membuat pasangan merasa tidak dihargai.
Setiap keluarga mempunyai kondisi ekonomi, tantangan, dan perjalanan yang berbeda. Karena itu, membangun rumah tangga sebaiknya berfokus pada kebutuhan bersama, bukan mengejar standar kehidupan orang lain.
Jika ada sesuatu yang ingin diperbaiki, sampaikan secara terbuka tanpa mempermalukan atau merendahkan pasangan.
4. Haddaqah, Sulit Mengendalikan Keinginan Berbelanja
Haddaqah sering dikaitkan dengan kebiasaan mudah tertarik pada berbagai barang dan keinginan berbelanja secara berlebihan.
Dalam kehidupan modern, persoalan ini bisa muncul ketika seseorang terus membeli barang karena mengikuti tren, tergoda promosi, atau ingin memiliki sesuatu hanya karena melihat orang lain memilikinya.
Masalahnya bukan terletak pada perempuan yang menyukai belanja atau merawat penampilan. Persoalan muncul ketika pengeluaran tidak terkendali hingga mengganggu kebutuhan rumah tangga.
Pengelolaan keuangan merupakan tanggung jawab bersama. Pasangan perlu menyepakati anggaran, membedakan kebutuhan dan keinginan, serta terbuka mengenai kondisi finansial masing-masing.
Dengan komunikasi yang baik, keinginan pribadi tetap bisa dipenuhi tanpa mengorbankan kestabilan keuangan keluarga.
5. Barraqah, Terlalu Berlebihan dalam Urusan Penampilan
Barraqah dalam sejumlah penjelasan populer dikaitkan dengan sikap yang berlebihan dalam berhias atau terlalu berfokus pada penampilan. Ada pula penjelasan yang menghubungkannya dengan ketidakpuasan terhadap makanan.
Istilah ini sebaiknya dipahami dalam konteks perilaku berlebihan, bukan sebagai larangan bagi perempuan untuk berdandan, memakai kosmetik, atau menikmati makanan yang disukai.
Merawat diri merupakan pilihan pribadi yang wajar. Hal yang patut diperhatikan adalah ketika penampilan atau kemewahan menjadi ukuran utama dalam menilai diri sendiri maupun pasangan.
Hubungan yang sehat tidak hanya dibangun melalui penampilan luar. Kejujuran, tanggung jawab, kepedulian, dan penghormatan terhadap pasangan juga mempunyai peran besar dalam menjaga keharmonisan rumah tangga.
6. Syaddaqah, Tidak Berhati-hati dalam Menggunakan Kata-kata
Syaddaqah atau Syaddaqaah sering dijelaskan sebagai karakter yang banyak berbicara, termasuk kecenderungan membicarakan orang lain atau menggunakan ucapan yang menyakiti.
Dalam hubungan suami istri, perkataan yang merendahkan dapat meninggalkan luka emosional, terlebih jika dilakukan ketika sedang marah.
Perbedaan pendapat sebenarnya merupakan hal yang wajar. Namun, persoalan dapat menjadi lebih besar ketika pasangan saling menghina, membuka aib, atau menggunakan kelemahan pribadi sebagai bahan serangan.
Karena itu, kemampuan menjaga lisan sangat penting dalam kehidupan berkeluarga. Belajar mendengarkan, memilih kata-kata yang pantas, dan meminta maaf ketika melakukan kesalahan merupakan bagian dari kedewasaan emosional.
7. Kay'atul-Qafaa, Istilah yang Berkaitan dengan Reputasi dan Masa Lalu
Kay'atul-Qafaa muncul dalam sejumlah artikel populer sebagai istilah ketujuh. Penjelasannya sering dihubungkan dengan perempuan yang memiliki reputasi buruk atau perilaku yang perlu diwaspadai.
Namun, istilah ini tidak selalu dicantumkan dalam daftar enam sifat yang umum dikaitkan dengan nasihat Imam Al-Ghazali. Karena itu, atribusi dan penafsiran khusus terhadap istilah tersebut perlu diperiksa kembali melalui rujukan kitab yang dapat dipercaya.
Dalam menilai calon pasangan, reputasi juga tidak seharusnya dijadikan alasan untuk menyebarkan fitnah atau menghakimi seseorang berdasarkan rumor.
Hal yang lebih relevan adalah menilai kejujuran, tanggung jawab, perilaku saat ini, serta kesediaan untuk memperbaiki diri. Masa lalu seseorang perlu dipahami dengan bijak tanpa mengabaikan persoalan serius yang memang berpengaruh terhadap kepercayaan dan keselamatan dalam hubungan.
Bukan Sekadar Mencari Kekurangan Calon Pasangan
Berbagai nasihat tentang karakter pasangan seharusnya menjadi bahan introspeksi bagi laki-laki maupun perempuan. Pernikahan yang sehat tidak terbentuk dengan mencari seseorang yang sama sekali tidak memiliki kekurangan.
Setiap orang mempunyai kelemahan, kebiasaan, dan cara menghadapi masalah yang berbeda. Karena itu, calon pasangan perlu mengenali nilai-nilai yang dianggap penting, mendiskusikan tujuan hidup, dan melihat bagaimana masing-masing menyelesaikan konflik.
Dalam kajian mengenai pemikiran Imam Al-Ghazali, akhlak dan agama juga mendapat perhatian penting sebagai pertimbangan memilih pasangan hidup.
Artinya, penilaian terhadap calon pasangan tidak seharusnya berhenti pada daftar sifat yang perlu dihindari. Kualitas hubungan juga ditentukan oleh kesediaan kedua pihak untuk saling menghormati, menjaga kepercayaan, dan bertanggung jawab.
Kesimpulan
Tujuh istilah yang kerap beredar dalam pembahasan nasihat Imam Al-Ghazali mengingatkan pentingnya mengelola keluhan, menghargai pengorbanan, menghindari perbandingan yang merendahkan, mengatur keuangan, menjaga perilaku, dan menggunakan kata-kata dengan bijak.
Namun, tidak tepat jika daftar tersebut langsung dipahami sebagai ketentuan bahwa perempuan dengan satu atau beberapa sifat itu haram atau mutlak tidak boleh dinikahi.
Memilih pasangan merupakan keputusan besar yang membutuhkan pertimbangan matang. Agama, akhlak, kejujuran, tanggung jawab, kecocokan nilai, dan kemampuan menyelesaikan masalah bersama layak menjadi bagian dari pertimbangan tersebut.
Pada akhirnya, rumah tangga yang harmonis bukan hanya tentang menemukan pasangan yang baik, melainkan juga tentang dua orang yang bersedia terus belajar menjadi pasangan yang lebih baik.